Desain Kumbung Jamur Mempengaruhi Bentuk dan Hasil Jamur

September 4, 2012

Di setiap proses budidaya jamur, banyak faktor yang perlu di perhatikan oleh para petani, terutama petani jamur yang baru belajar membudidayakan jamur. Mulai dari faktor kualitas baglog jamur, perawatan baglog dan kumbung, desain kumbung jamur. Dan yang akan kami bahas disini adalah tentang desain kumbung jamur yang sering kali tidak sesuai/ kurang ideal.

Dalam pembuatan kumbung jamur, para petani terutama petani baru masih sering melakukan kesalahan dalam mendesain kumbung jamurnya. Hal ini sebenarnya karena kurang nya pengetahuan tentang habitat jamur yang baik untuk pertumbuhan jamur, disertai dengan tidak adanya pendampingan dari produsen baglog jamur yang mestinya lebih tau tentang desain jamur yang baik.

Berikut ini beberapa kesalahan dalam pembuatan  kumbung jamur:

1.  Kumbung gelap gulita tanpa pencahayaan dari luar. Kumbung tetap membutuhkan pencahayaan, bukan cahaya lampu, tapi cahaya matahari. Pada malam hari, kumbung tidak perlu diberi lampu dan biarkan gelap. Kumbung membutuhkan cahaya sebesar 20% atau tandanya anda bisa membaca tulisan di buku dengan jelas pada jarak 30 cm. Pencahayaan bisa dibuat dari: a) dinding terbuat dari anyaman bambu yang banyak rongganya, cahaya akan masuk; b) Untuk dinding bagian bawahnya bisa dipotong setinggi 40 cm dan cukup ditutup dengan plastik bening, sehingga cahaya (bukan cahaya langsung) bisa masuk tapi udara panas tidak akan masuk; c) buatkan atap dari fiber glass, cukup cahayanya yang masuk bukan panasnya.

2.  Kumbung tidak diberi sirkulasi udara yang cukup.  Untuk sirkulasi udara bisa dibuatkan dari: a) dinding terbuat dari anyaman bambu yang banyak rongganya, maka sudah cukup; b) dibuatkan pintu yang bisa dibuka tutup atau ; c) bagian bawah yang dipotong setinggi 40 cm bisa diganti paranet, agar jika terpapar panas, panasnya tidak masuk dan cukup udaranya saja.

3.  Jarak antar rak baglog jamur yang terlalu dekat. Banyak petani bermaksud mengisi sebanyak mungkin kumbungnya dengan baglog, sedangkan sebenarnya kapasitas kumbungnya terbatas. Akhirnya kumbungnya sesak  terisi baglog jamur. Ini akan terasa dampaknya saat panen jamur mulai tiba, ruangan akan dipenuhi dengan kabut spora yang beterbangan memenuhi ruangan. Hal ini akan mengurangi suplai oksigen kepada jamur yang sedang tumbuh jika tidak didukung dengan sirkulasi udara yang baik.

Faktor aktor dia tas bisa menyebabkan ruangan kumbung menjadi pengap, udara terlalu jenuh, karena sirkulasi udara pencahayaan yang kurang. Jika dibiarkan, dampaknya bisa dilihat saat panen jamur tiba, antara lain:

  • Jamur yg siap panen sebagian akan tampak layu dan kurang segar
  • Bentuk jamur sebagian akan menjadi kecil kecil sekali, padahal bibit jamurnya aslinya besar2
  • Bakal jamur/ pin head kadang ada yang mati sebelum tumbuh besar
  • Jamur menjadi jembek dan kekuningan karena udara yang jenuh dan terlalu lembab.

Dampaknya bagi petani jamur, jika jamur dijual pasti akan mendapat komplain dari bakul jamur atau konsumen langsung. Karena jamur dikira sudah busuk, layu, berat karena terlalu basah, dan tidak segar. Apalagi jika dijualnya dengan dibungkusi..!!

cat: – Kasus ini pernah terjadi pada petani jamur di sekitar kami

– belum sempat difoto buat dokumentasinya,maaf…:)

– silahkan tambahkan jika ada masukan ya?

Iklan

Penyebab Baglog Jamur Tiram Sulit Panen

Agustus 8, 2011

Suatu ketika ada beberapa pembudidaya jamur yang bertanya mengenai  baglog jamur yang dia budidayakan. Pertanyaannya yaitu kenapa baglog jamur yang sudah tumbuh penuh sulit keluar bakal jamurnya. Pertanyaan ini  mungkin bisa diperjelas lagi, yaitu baglog sulit keluar jamur pada awal pembukaan dan lamanya rentang antar panen pada baglog jamur. Penyebab pemasalahan ini bukan hanya pada petani yang membudidayakan baglog jamurnya, tapi juga pada proses pembuatan baglog jamur, yaitu pada petani penyedia baglog jamur.

Permasalahan yang disebabkan oleh pembudidaya baglog jamur yaitu karena rumah/kumbung jamur kurang ideal untuk pertumbuhan jamur. Bisa dikarenakan desain kumbung  jamur yang kurang tepat, antara lain:

1. Atap kumbung terlalu rendah, sehingga ruangan menjadi pengap/ sumuk dan akan mudah meningkatkan suhu ruangan. Artinya kondisi ruangan tidak memenuhi syarat tumbuh jamur.  Kecuali jika pendirian kumbung berada di bawah pohon yang teduh dan rindang.

2.  Kumbung jamur terlalu gelap karena tertutup rapat tanpa sirkulasi, hal ini akan menghambat pertumbuhan pin head/ bakal jamur. Pada masa pertumbuhan jamur pada baglog, butuh pencahayaan sebesar 10-15 %. Bukan sinar matahari langsung yang masuk ke dalam kumbung.

– Sedangkan bagi pembudidaya jamur, perlu dilakukan perawatan baglog secara  rutin selama masa produktir.  Lakukan pembukaan pada bagian depan baglog, baglog yang dibuka adalah baglgo yang pernah panen minimal  1 kali, tampak seperti gambar dibawah:

Baglog dengan bukaan depan

Baglog dengan bukaan depan (2)

Lakukan selalu peremajaan pada bagian baglog yang rusak/ kotor, yaitu dengan membersihkan bagian yang rusan sampai terlihat bagian baglog yang putih. Tujuannya adalah untuk memicu pertumbuhan bakal jamur lagi. Pembukaan seperti diatas bisa dilakukan bila kondisi suhu dan kelebaban bisa dijaga ideal, karena jika tidak (suhu lebih dari 28’C dan kelembaban kurang dari 70%) akan menyebabkan terjadi penguapan yang tinggi yang mengakibatkan baglog menjadi kering. Jika tidak memungkinkan untuk melakukan pembukaan, anda bisa melubangi atau menyobek (sambil dilukai baglognya) seukuran 1×1 cm sebanyak 2-4 bagian pada sisi depan dan belakang. Hal ini bisa mengurangi penguapan yang tinggi.

– Dan terakhir,  pada proses pembuatan baglog jamur. Dari pengamatan dan studi banding yang telah kami lakukan, bahwa baglog jamur akan mengalami kesulitan pada pertumbuhan pih head/ bakal jamur pada awal panen dan pada pertumbuhan berikutnya dikarenakan serbuk kayu yang dipakai dalam pembuatan baglog masih belum benar benar lapuk. Hal ini akan menghambat penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakal jamur. Ada beberapa tanda dan akibat dari pemakaian serbuk yang masih mentah/ belum lapuk, antara lain:

1. Pada permukaan baglog akan tumbuh daging berwarna kekuning kuningan ( ngoncom), dan akan tampak jika baglog sudah mulai dipenuhi miselium jamur.

2. Keluarnya pin head/ bakal jamur sejak pembukaan pertama sangat lama, antara 3-4 minggu, padahal idealnya 1-2 minggu sejak pembukaan.

3. Jarak panen dengan panen sebelumnya sangat lama, bisa jadi tidak panen lagi dan baglog akhirnya menjadi membusuk, padahal masih dalam masa produktif.

4. Baglog tidak bisa berwarna putih pekat seperti tempe.

5. Jamur yang tumbuh akan layu dan kering sebelum waktunya panen. Hal ini disebabkan penyerapan nutrisi pada baglog kurang optimal, karena serbuk yang belum lapuk akan sulit untuk diuraikan menjadi makanan bagi jamur.

Oleh sebab itu, usahakan agar serbuk kayu yang dipakai dalam kondisi melapuk, adapun cara untu melapukkan adalah:

1. Biarkan serbuk kayu di tumpukan luar atau yang sudah dibungkus glangsing  selama minimal 3 minggu, agar terjadi pelapukan alami. Bisa dibantu dengan menyirami serbuk dengan air dengan tujuan agar resin/ getah kayu bisa larut ke bawah, sehingga pelapukan semakin cepat.

Pelapukan serbuk kayu

2. Lakukan pengomposan/ fermentasi pada media baglog yang sudah diacampur dengan bahan lain dan sudah diraduk dengan air. Waktu pengomposan selama minimal 3 hari. Caranya, tutup rapat saduran tadi dengan plastik atau apapun yang bisa buat nutup.  Seperti gambar diabawah ini:

Bahan campuran baglog jadi satu

Proses penyaduran

Proses pengomposan, tutup rapat

Selamat mencoba!!!
Kalo ada masukan bisa sharing ya…

Budidaya jamur Tiram

Mei 7, 2009

I. SYARAT TUMBUH
Tempat tumbuh Jamur tiram termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu lapuk dan mengambil bahan organic yang ada didalamnya. Untuk membudidayakan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk kayu yang baik untuk dibuat sebagai bahan media tanam adalah dari jenis kayu yang keras sebab kayu yang keras banyak mengandung selulosa yang merupakan bahan yang diperlukan oleh jamur dalam jumlah banyak disamping itu kayu yang keras membuat media tanaman tidak cepat habis. Kayu atau serbuk kayu yang berasal dari kayu berdaun lebar komposisi bahan kimianya lebih baik dibandingkan dengan kayu berdaun sempit atau berdaun jarum dan yang tidak mengandung getah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan misellium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan tidak busuk dan tidak ditumbuhi jamur jenis lain.
Untuk meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik, masih baru sebab jika sudah lama disimpan kemungkinan telah menggumpal atau telah mengalami fermentasi serta tidak tercampur dengan bahan-bahan lain yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung merupakan sumber karbohidrat, lemak dan protein. Disamping itu perlu ditambahkan bahan-bahan lain seperti kapur ( Calsium carbonat ) sebagai sumber mineral dan pengatur pH meter
Media yang terbuat dari campuran bahan-bahan tersebut perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 – 65 % dengan menambah air bersih agar misellia jamur dapat tumbuh dan menyerap makanan dari media tanam dengan baik Penambahan air yang tidak bersih dapat menyebabkan media terkontaminasi dengan mikroorganisme
Tingkat keasamon ( pH)
Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur akan terhambat. bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mergganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 – 7 dengan menggunakan kapur ( Calsium carbonat )
Suhu udara
Pada budidaya jamur tiran suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 – 28 OC dengan kelembabon 60 – 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara sama antara 22 – 28  ‘C untuk jamur tiram putih dan  22–30 ‘C untuk jamur tiram coklat, dengan kelembaban sama 85 – 95 %.

Cahaya
Pertumbuhan misellium akan tumbuh dengan cepat dalam, keadaan gelap/tanpa sinar, Sebaiknya selama masa pertumbuhan misellium ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buah tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah pada permukaan media harus mulai mendapat sinar dengan intensitas penyinaran ? 60 – 70 %.

II. TAHAPAN DALAM KEGIATAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

  1. Persiapan Media Tanam
    Sebelum dilakukan penanaman ( inokulasi ) bibit kedalam media tanam, perlu dilakukan persiapan-persiapan antara lain:
    a. Menyiapkan bahan dan alat yang digunakan.
    b. Mencampur serbuk kayu dengan bahan-bahan lain seperti bekatul, tepung jagung dan kapur sampai merata ( homogen ) kemudian diayak. Untuk lebih lengkap formula komposisi media jamur sebagai berikut:

Komposisi Media tanam (kg)

formula1

formula1

dan

formula2

formula2

c. Menambah air hingga kandungan air dalam media menjadi 60?-65 % lalu tentukan pH-nya dengan kertas lakmus. Tandanya bahwa campuran sudah tepat yaitu saat campuran itu digenggam maka dapat mengepal tapi tidak mengeluarkan air, maka campuran sudah bagus.
d. Memasukkan media tanam kedalam kantung plastik polypropilene dan memadatkannya lalu bagian atas kantung plastik diberi cincin paralon kemudian dilubangi 1/3 bagian dengan kayu dan ditutup dengan kertas lilin serta diikat dengan karet pentil.
e. Melakukan sterilisasi pada suhu 120 ‘C selama 7 – 8 jam. Itu kondisi paling aman agar baglog kita steril.
f. Mendinginkan media tanam selama 8 – 12 jam dalam ruangan inokulasi. Pada rentang waktu itu langsung dimasukkan bibit ke dalam bag log, walau media masih hangat.

2. Penanaman ( Inokulas)
a. Inokulasi dilakukan setelah media tanam dingin dengan suhu antara 22 – 28 ‘C.
b. Menyiapknn alat dan bahan yang diperlukan dalam proses penanaman ( inokulasi ).
c. Sterilisasi semua alat dan bahan yang akan digunakan
d. Membuka penutup/ kertas lilin dan memasukkan bibit dari dalam botol kedalam media tanam dengan menggunakan stik inokulasi.
e. Menutup kembali penutup/kertas lilin dan mengikat dengan karet pentil.
f. Memindahkan media tanam yang telah ditanami bibit tersebut kedalam ruangan inkubasi sampai tumbuh misellium jamur, Lamanya penumbuhan misellium jamur antara 35-40 hari.
g. Setelah misellium memenuhi kantong plastik dipindahkan ke ruang produksi dengan membuka tutup kontong plastik dan menyemprot air secara teratur

3. Panen

Setelah 10 – 15 hari setelah cincin dibuka, kemudian dapat dipanen untuk pertama kali, panen berikutnya setiap hari  secara teratur selama masa produktif 4 bulan ( jika perawatan bagus bisa lebih). Per log membutuhkan siklus waktu 15 hari untuk panen lagi. Jadi 4 bln x 2 kali penen / bln = 8 kali panen.

–   harga jamur dari petani/ pembudidaya jamur = Rp 10.000 (untuk Jawa Timur), tapi  bisa berbeda beda untuk tiap daerah.

kumbung jamurku

kumbung jamurku